Selasa, 20 September 2011

Menjadi orang tua untuk penyandang autisma

Kemarin di klinik saya bertemu dengan salah satu ortu dari anak autis, seperti biasa sesama ibu-ibu  pasti ngobrolnya tentang anak, apalagi kalau punya anak spesial (Autis).  Ibu ini berkeluh kesah dengan maslah anak dan keluarganya. Memang demi anak ini ia rela tinggal berpisah dengan suami dan putrinya yang berusia 7 tahun. Waktu 3 tahun terasa sangat panjang seakan berabad-abad buat ibu ini, tapi apa boleh buat demi si anak spesial ini. Akhirnya ibu ini tidak kuat lagi untuk hidup berpisah dengan suami dan putrinya sehingga pada bulan november nanti ia akan balik ke kota asalnya dan berkumpul kembali bersama suami dan putrinya.
memang sangat berat menjadi orang tua anak penyandang autis. Saya pernah membaca salah satu statement yang berbunyi bahwa menjadi orang tua adalah pilihan, tetapi menjadi anak dan apalagi menjadi anak autis bukan pilihan. kalau dipikir-pikir statement tersebut tidak seratus persen benar (menurut saya) terutama tentang menjadi orang tua. sebagai orang "normal"  bila diberi pilihan oleh Tuhan apakah saya mau menjadi orang tua anak autis atau anak normal, pasti saya akan memilih menjadi orang tua dari anak normal. Fakta, saya tidak bisa memilih menjadi orang tua dengan anak normal. Tuhan telah memberikan kepada saya seorang anak autis. Walaupun saat ini anak saya Aldo sudah "sembuh" dari ciri-ciri autisnya, tapi bila saya ingat kembali waktu yang sudah saya jalani,segala pegolakan yang saya alami bersama Aldo, saya tidak ingin menjalaninya untuk kedua kalinya.
menjadi orang tua anak autis harus mempunyai nafas panjang ! Artinya harus kuat dan kreatif. Setiap hari yang kita lalui akan berlalu sangat lambat tapi cepat, apalagi kita tidak tahu kapan ujungnya. memang pasti ada akhirnya tapi kita tidak pernah tahu kapan akan berakhir.
hari ini saya hanya akan memberi pesan kepada sesama ortu yang mempunyai anak Autis. JANGAN PERNAH MENYERAH ! INGAT ! ANAK ADALAH ANUGERAH YANG DIBERIKAN OLEH TUHAN KEPADA KITA ! Jadi berbuatlah sebaik-baiknya setiap hari untuk anak kita.Memang berat, tapi  beban itu harus kita pikul, jangan membiarkan orang lain yang memikulnya. Dan kalu mau mengeluh, mengeluhlah kepada Sang Pencipta, pasti Dia akan mendengarkan segala keluh kesah anda, Dia tidak pernah menutup telinga Nya untuk kita, jadi tidak usah sungkan-sungkan mengeluh saja kepadaNya. It worthed !!  Saya sendiri melakukan demikian ,sehingga bila bertemu dengan orang lain saya tidak perlu mengeluh lagi, dan terlebih-lebih bila berhadapan dengan buahati kita  kita akan lebih tenang sehingga proses mengajar dan mengasuh lebih baik berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar